Be glad of life coz it gives the chance to love, to work and to look up the stars
Minggu, 02 Oktober 2011

Kepak saYapQ

Manusia,,,, makhluk paling sempurna penciptaannya dibanding makhluk lain dan itulah kita. Namun ada yang uniq dari cara kita mengukur perjalanan kehidupan kita. Kita akan mengakhiri perjalanan hidup setelah melewati ratusan bahkan ribuan peristiwa yang mewajibkan kita memberikan reaksi dengan 1 angka saja.

Seketika kita tersentak entah karena bahagia atau sedih melihat kalender yang menunjukkan tanggal kelahiran kita. Hmmm… Kita berulang tahun hehehe… Ada yang istimewa rasanya karena hakikatnya kita sedang mengulang hidup pada hari kita dilahirkan beberapa tahun yang lalu. Kebahagiaan mengisi relung hati saat itu, bahkan kita merefleksi cara pandang kita pada usia dengan bermacam-macam cara. Dengan pesta, syukuran, neraktir teman, menunaikan nazar atau muhasabah. Apakah ini sekedar untuk menunjukkan bahwa kita talah terkukuhkan sebagai manusia dengan semata-mata menambahkan 1 digit di usia kita?!

Tentu tidak,,, karena meskipun kita menggunakan cara yang tidak ada hubungannya dengan hakikat penambahan usia, kita tetap menyadari bahwa sejumlah jarak dari perjalanan hidup ini sudah kita lalui. Sekarang masalahnya apakah kita percaya bahwa hidup ini ibarat perjalanan dan kita sudah melewati sebagiannya. Manusia mempunyai misi kekhalifahan dan diberi umur untuk memakmurkan bumi. Kata umur mengandung arti misi, tugas.

Orang hidup harus menggunakan umurnya sebagai tugas untuk menciptakan kemakmuran. Kalau tidak, berarti mengkhianati amanat, mengkhianati umur karena umur harus makmur. Kemakmuran dalam bentuk spiritual dan material. Ada orang yang makmur dunianya tapi pailit akhiratnya. Juga ada manusia yang pailit dunianya tapi makmur spiritualnya. Ini semuanya tidak tepat. Al Qur'an mengajarkan dalam berdo'a supaya mendapatkan kebaikan di dunia dan di akhirat. Tapi barangkali makna kebaikan di dunia dan di akhirat, bukan akhirat berarti Masjid dan ditoko adalah dunia. Artinya keduanya berhimpitan. Apa yang dilakukan di dunia hendaknya sekaligus mempunyai makna akhirat. Yang dimaksudkan mempunyai makna akhirat juga sekaligus wujud dunia. Makanya, orang bekerja ya bekerja tapi juga mempunyai makna ukhrawi. Jadi bukan dua sayap; sayap yang satu dunia dan satu sayap lainnya akhirat. Harus kedua-duanya, dunia ya akhirat.

Perjalanan usia tak ubahnya seperti buku tulis yang sudah penuh dengan catatan. Catatan di tahun sebelumnya kita simpan dalam lemari kenangan. Kini kita sudah menghadapi buku yang baru, untuk kita goreskan tinta tentang perjalanan hidup di usia yang baru. Berapa banyak angka yang telah kita lalui maka sebanyak itu pulalah buku yang telah kita tulis. Baik, buruk, benar, salah dosa atau pahala, semuanya tertoreh dalam lembaran-lembaran catatan perjalanan usia kita.


Sabtu, 19 Februari 2011

Tekhnologi 'n Peradaban Manusia

Perkembangan zaman telah mengantar kita pada era global. Globalisasi kini menjalar bak rumput liar keseluruh aspek hidup manusia dan dampaknya pun merambah peradaban. Lihatlah bagaimana tekhnologi mampu menyelesaikan jenis-jenis pekerjaan yang sebelumnya menuntut kemampuan fisik yang cukup besar. Saksikanlah bagaimana tekhnologi memudahkan aktivitas dan komunikasi kita sehingga semuannya menjadi lebih efisien.

Era globalisasi menuntut banyak hal termasuk keikutsertaan dan peran aktif kita dalam menggunakan tekhnologi baik informasi atau komunikasi. Perkembangan tekhnologi yang begitu pesat akan berpengaruh pada setiap pribadi, aktivitas, gaya hidup serta cara berfikir seseorang. Beberapa tahun yang lalu komunikasi kita terbatas pada telpon dan surat, dengan segala keterbatasan serta memerlukan waktu yang lumayan lama. Namun kini semua begitu mudah dengan waktu yang sangat singkat... cukup butuh waktu sedetik saja kita sudah bisa berkomunikasi dengan seseorang di belahan dunia manapun.

Dunia IPTEK dengan perkembangannya yang demikian mengagumkan itu tak lepas dari usaha manusia untuk mengupayakan serta memaksimalkan potensi akal yang dimiliki. Perkembangan tersebutlah yang membantu kita dalam memajukan peradaban ummat manusia meskipun ada dampak negatif atau kelemahan dari kemajuan tersebut tapi hal ini seolah diabaikan. Peradaban manusia serta kehidupan sosialnya telah banyak terbantu oleh produk bernama dengan tekhnologi tersebut.

Dewasa ini tekhnologi telah menjadi sebuah kekuatan yang justru membelenggu prilaku dan gaya hidup kita sendiri. Dengan pengaruhnya yang sangat besar karena ditopang oleh sistem-sistem sosial serta kecepatan yang semakin tinggi seolah menjadi pengarah hidup manusia. Kalaupun tekhnologi mampu mengungkap tabir rahasia alam dan kehidupan seseorang tak berarti dapat dipertuhankan. Pengembangan IPTEK bukanlah solusi dari permasalahan yang ada karena IPTEK tak mengenal moral kemanusiaan. Maka dari itu sudah saatnya kita sebagai penentu peradaban mulai menjadikan tekhnologi sebagai sarana pembantu dan bukan sarana penentu kehidupan kita. Mari kita pergunakan tekhnologi ini sebagaimana mestinya, dengan sebaik-baiknya agar bermanfaat bagi kehidupan kita bukan malah sebaliknya.


Jumat, 20 Agustus 2010

Pes0na ciNta Arroshifa


" Ya Rahman... Ajarkan kami untuk tdk berputus asa dari kasih-Mu. Ajari kami untuk selalu berharap yg terbaik serta berani bercita-cita & merencanakan hidup yg indah. Sekelam apapun langit semalam toh mentari esok pagi menanti dengan penuh keceriaan yg memberi berjuta harapan".



Mungkin inilah sepenggal doa Qt kala itu, ketika begitu berat amanah cinta keluarga u/Qt tuntaskan. Takkan terlupakan masa indah perjuangan ketika asa, harapan & cita keluarga begitu mempesona langit cinta Qt namun begitu berat tuk diwujudkan. Pulau idaman itu begitu sulit diraih, pulau itu begitu jauh & butuh perjuangan serta pengorbanan u/meraihnya.

Mampukah langit cinta Qt berlayar kepulau itu ketika ombak selalu menghadang?? Tapi ternyata... Pesona cinta pulau impian Qt begitu menyilaukan mata, memekakkan rasa sehingga sekeras apapun ombak menghantam, sehebat apapun angin berhembus, asa itu takkan pudar... Bukankah Qt pejuang, tidakkah sunnah perjuangan telah menempah Qt & tidakkah perjalanan panjang yg Qt hadapi telah menjadikan Qt tangguh??! Cacian, hinaan bahkan hukuman takkan mampu menghalangi Qt sampai akhirnya sunnatullah akan berlaku...

Akhirnya kesuksesan itu Qt raih, walaupun tujuan akhirnya blm tercapai. Pulau idaman itu masih jauh... Namun ArroshifahQ tak akan menyerah. Walau dng langkah tertatih Qt akan tetap berlayar kesana bahkan ketika hembusan terakhir nafas Qt pun akan tetap berusaha meraihnya... Yach pulau itulah tujuan akhir hidup Qt, pulau idaman Al Quran & Sunnah Rasulullah...


Tak henti"nya Qt memohon semoga pesona cinta dilangit cinta Qt tetap bersemi, semoga pesona cinta kembali menyatukan pelangi Qt dlm celupan warna ilahiyah & semoga langit cinta mengantar Qt pd tujuan haqiqi... Bravo arroshifahQ



(DH 03 Graduation)

Selasa, 10 Agustus 2010

“Menyambut Ramadhan dengan Kebahagiaan”


Alangkah bahagianya umat Islam yang akan memasuki bulan suci Ramadhan 1431 Bulan yang mulia, bulan dimana rahmat dan maghfirah Allah dibuka seluas-luasnya, bulan dimana amalan-amalan sunnah dihitung pahalanya laksana amalan fardhu, bulan dimana puasa diwajibkan sebulan penuh, dan inilah bulan yang senantiasa kita tunggu-tunggu. Sebagai muslim tentunya kita yakin dengan keistimewaan bulan Ramadhan. Bahkan pemahaman kita terhadap keagungan bulan ramadhan haruslah bersifat mutlak dan bebas dari virus relativisme, virus yang menggerogoti keimanan dan menghancurkan nilai perbuatannya.
Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam berdoa kepada Allah Ta’ala: “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban. Serta sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan”. Mualla bin Al-Fadhl berkata “mereka (para salaf) selama enam bulan telah berdoa kepada Allah supaya disampaikan kepada bulan Ramadhan, dan berdoa selama enam bulan selanjutnya agar amalan mereka pada bulan Ramadhan diterima”.
Kenapa mereka begitu bersungguh-sungguh memohon kepada Allah agar disampikan ke bulan Ramadhan? Jawabannya tidak lain adalah karena mereka sadar dan paham betul dengan keutamaan dan keistimewaan bulan Ramadhan.
Nah, bagaimana persiapan kita menyambut bulan Ramadhan?, berikut ini delapan tips menyambut bulan penuh berkah tersebut:

1. Memperbanyak doa agar Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan umur panjang agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan. Dari Anas Radhiallahu Anhu berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam apabila telah masuk bulan Rajab selalu berdoa “Allahumma Baariklana fii Rajab wa Sya’ban, Wa Ballighna Ramadhaan” (H.R. Ahmad dan Tabrani).

2. Memperbanyak pujian kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Imam An-Nawawi di dalam kitab Adzkar-nya berkata “Dianjurkan bagi setiap orang yang mendapat kebaikan dan diangkat dari dirinya keburukan untuk bersujud kepada Allah sebagai tanda syukur dan memuliakan Allah dengan pujian yang sesuai dengan keagungannya”. Dan di antara nikmat terbesar yang diberikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada kita semua adalah ketika kita diberikan kemampuan untuk melakukan ibadah dan ketaatan.
3. Bergembira dengan kedatangan bulan Ramadhan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam berkata “Telah dating kepada kalian bulan Ramadhan, bulan penuh berkah, Allah wajibkan kepada kalian untuk berpuasa. Pada bulan itu Allah membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu-pintu neraka” (H.R. Ahmad).
4. Memahami fiqh Ramadhan. Setiap kita wajib hukumnya beribadah dengan landasan ilmu. Kita wajib mengetahui ilmu dan hukum berpuasa serta amaliah-amaliah Ramadhan lainnya sebelum Ramadhan dating agar amaliah Ramadhan kita benar dan diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Allah berfirman “Tanyakanlah kepada orang-orang berilmu, jika kamu tiada mengetahui”. (Q.S. Al-Anbiyaa’: 7).
5. Kuatkan adzam, bulatkan tekad. Isilah detik-detik Ramadhan dengan ketaatan. Tiada waktu kecuali bernilai pahala di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
6. Kondisikan Qolbu dan Ruhiyah. Perbanyaklah aktivitas bacaan yang mendukung proses Tadzkiyatun Nafs (pembersihan jiwa). Hadirilah majelis-majelis ilmu, pengajian yang membahas keutamaan, hukum, dan hikmah puasa, sehingga secara mental dan jiwa kita siap melakukan ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala secara maksimal di bulan Ramadhan.
7. Rencanakan agenda kegiatan harian. Perjalan Ramadhan akan sangat singkat, karena itu kita perlu merencanakan agenda kegiatan yang dapat berbuah pahala di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
8. Taubat dengan sungguh-sungguh. “Setiap anak Adam adalah pendosa dan sebaik-baik pendosa adalah yang bertaubat”. Demikianlah sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah. Isilah Ramadhan dengan membuka lembaran baru yang bersih. Lembaran baru kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya (Taubatan Nashuuha). “Dan taubatlah kamu sekalian kepada Allah hai orang-orang beriman supaya kamu beruntung” (Q.S. An-Nur: 31). Lembaran baru kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dengan menjalankan sunnah-nya serta melanjutkan risalah dakwahnya. Lembaran baru kepada umat islam untuk mempererat hubungan silaturrahim sehingga kita menjadi orang yang paling bermanfaat bagi yang lainnnya. “Manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”.
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memanjangkan umur kita sehingga berjumpa dengan tamu yang mulia, Ramadhan. MARHABAN YAA RAMADHAN. Selamat meraih kebaikan-kebaikannya. Wallahu A’lam.

“Saat yang Pasti Tiba”
Ketika malam mulai beranjak Semburat merah di ufuk barat
Perlahan lenyap Tertelan gulita yang kian merayap
Larut dalam warna gelap yang kian pekat
Membungkus hatiku yang lembab Oleh gerimis derita dan air mata
Dalam simpuh ku merenung Terbayang saat kelak jasadku terbujur kakuTertimbun tanah basah dan berbau Menggerogoti daging Meremukkan tulang-belulang Tak ada lagi waktu untuk beramal Tak ada lagi permohonan dapat diminta Hanya sesal yang tak terkira yang tersisa Angan tanpa batas begitu menyiksa Andai dulu tak ada waktu yang tersisa Andai dulu harta tak memperdaya Namun angan tinggallah angan Yang mati tak akan kembali ke duniaCoba jujur bertanya pada diri Apa yang dicari selama iniAdakah yang bisa dibawa nantiSebagai perisai dari api Bila bekal tak dibawa Dengan apa pertanyaan kan dijawab Ketika mulut tertutup rapat Tangan dan kaki menjadi saksi Tak ada celah tuk mengelak Tak ada tempat untuk lari Semua disibukkan oleh diri sendiri Tak lagi peduli bapak, ibu, dan anak.

"Kado dari Ust. A. Hadi Ibrahim"



Postingan Lebih Baru Postingan Lama